My funny Indonesia - updated
Just recently updated about Raju case; it turned out that i was wrong. Orangtua dari anak yang "dianiaya" oleh Raju ternyata bukan penggede. Mereka bahkan mengaku bahwa setelah orangtua Raju mengganti biaya pengobatan Armansyah, "si teraniaya", mereka telah mencabut gugatannya.
Yang jadi soal adalah hakim dan korps nya yang sampai saat ini merasa tidak bersalah dan bersikeras melanjutkan pengadilan kepada si Raju.
Gue eneg banget liat mukanya si Tiur Pardede gombal, hakim kasus ini, yang tetep merasa bahwa semuanya "sesuai prosedur". Juga ada satu cowok yang entah siapa yang juga menyatakan bahwa pengadilan akan diteruskan apapun sanksi nya. Gila!!! Pengen gue tembak semua orang2 itu, pas di mulutnya, biar nggak bisa berkoar2 lagi and mampus sekalian.
My funny Indonesia
Ada tiga headlines di harian Kompas yang belakangan gue ikutin. Yang pertama adalah soal penjebakan seorang ibu yang cari duit dengan menjual anak gadisnya, Lara. Sedang yang kedua adalah soal si Raju, anak umur 8-9 tahunan yang dijeblosin ke penjara and disidang di pengadilan "hanya" karena berkelahi sama teman sekolahnya. Terakhir adalah soal RUU Pornografi dan Pornoaksi.
Lara, sesuai bener namanya sama kejadian yang menimpa dia. Berkat kerjasama Lara dan kepolisian Jakarta, ibunda si Lara akhirnya ditangkep. Yang menarik perhatian gue adalah kalimat Lara setelah ibunya ditangkep; dia bertanya2 apakah dia berdosa karena dia menjebak ibunya sendiri. Sementara ibunya dengan segala sumpah serapah mengancam bahwa setelah nanti dia bebas dia tidak mau mengakui Lara sebagai anaknya lagi. And si Lara kayaknya terkesan takut dengan ancaman itu.
My opinion: mungkin … hanya mungkin … apa iya sih gara2 sering dijual ke om-om si Lara jadi rada lemot? Kenapa takut sekedar diancam nggak diaku sebagai anak? Bukannya selama ini juga dia nggak dianggap sebagai anak ama ibunya? Buat ibunya Lara hanyalah komoditi atau barang untuk dijual; mungkin dia emang nggak pernah dianggap anak sama ibunya. So what gitu lho? Daripada punya ibu kayak begitu mending nggak usah punya ibu aja.
Sementara itu, di belahan dunia lainnya, tepatnya di Sumut, adalah kasus si Raju. Sejak agustus 2005 dia ditangkap, dipenjara, dan disidang oleh oknum2 pengadilan dan kepolisian hanya karena si Raju berkelahi dengan teman sekolahnya. Umur si Raju waktu itu 8 tahun sementara temannya 14 tahun.
Diliat dari umurnya gue menangkap kesan bahwa si Raju emang bukan anak yang "baik, soleh dan taat beribadah". Kalau anak 8 tahun berani melawan anak 14 tahun, berarti either dia itu nekad atau emang nakal luar biasa.
Cuma … senakal2nya si Raju, dia cuma berkelahi dengan temannya. Ini cuma kasus perkelahian biasa. Koq yah guoblok banget sih para pengadil dan polisi di Sumut sampe2 si Raju ini ditangkap dan diperlakukan kayak koruptor? Terus, kalo mau nangkep, kenapa cuma si Raju yang ditangkep? Kenapa temannya nggak?
My opinion: Kayaknya ada "apa-apanya" di kasus Raju. Mungkin orangtua teman si Raju ini penggede. Atau mungkin para pengadil dan polisi di Sumut terlalu "taat hukum" sampai mereka bergerak kayak robot dalam membaca aturan hukum. Kemungkinan yang kedua ini sudah banyak dibahas di Kompas, sedang kemungkinan yang pertama seolah luput dari perhatian.
Gue lebih cenderung ke yang kemungkinan pertama. Rasanya segoblok2nya orang, nggak mungkin para pengadil dan polisi di Sumut mau menyibuk2an diri hanya untuk ngurusin kasus anak umur 8 tahun. Sebegitu kurang kerjaan nya kah mereka? Andai iya pun, gue rasa mereka belum setolol itu.
Berbarengan dengan dua kasus diatas, muncul pula RUU Pornografi dan Pornoaksi. RUU jenis beginian rasanya bukan barang baru, asumsi gue mungkin semua negara juga punya (kali yah?). Cuma jadi lucu karena isi RUU ini sangat ajaib karena seolah mau mengatur tingkah laku setiap WNI dalam hal moral. Singkatnya adlah seperti ini: bila RUU ini sudah goal, kalau nggak mau dihukum, setiap WNI harus bisa bersikap seperti robot dalam mengekspresikan perasaan nya. Semua harus sesuai dengan koridor hukum yang berlaku dan ditetapkan oleh kelompok mayoritas.
Sementara aturan2 yang benar2 diperlukan pun belom jalan dengan semestinya, para wakil rakyat malah ngebahas aturan2 yang "omong kosong" dan mungkin nggak diperlukan. This is my Indonesia, funny Indonesia.
Peace.